RELASI GENDER DALAM TAFSIR MUTAWALLÎ AL-SYA’RÂWÎ

Authors

  • Abdul Hadi Institut PTIQ Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.53976/jmi.v10i2.247

Keywords:

Relasi, Gender, Tafsir Mutawallî

Abstract

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Sya’rawiy walaupun bukan tokoh feminis namun penafsirannya secara filosofis sejalan dengan tafsir feminis, yaitu tafsir yang berkeadilan gender. Eksistensi laki-laki dan perempuan secara ontologis adalah sama, yaitu sama-sama dijadikan Tuhan dengan proses yang sama. Sya’rawiy mengkritik mitos penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki karena yang dianggap tidak berkeadilan dan tidak berdasar. Dalam ranah hukum keluarga Islam, Sya’rawiy mengajak untuk masuk pada kesadaran bahwa ayat-ayat yang selama ini dipahami sebagai anjuran untuk berpoligami semangat utamanya adalah ajakan untuk berlaku adil kepada para wanita yatim terkait konteks sosial masyarakat Arab ketika ayat itu turun. Hal ini bukan anjuran berpoligami dan hanya mengindikasikan kebolehannya.

Implikasi dari penelitian ini adalah kenyataan bahwa penafsiran modern sekalipun masih menyisakan kesan bahwa kedudukan perempuan lebih rendah dari laki-laki. Terutama bila terkait pembahasan tentang kepemimpinan. Ukuran ketaatan perempuan adalah ketaatannya pada laki-laki karena posisinya adalah pelengkap. Meski Sya’rawiy luwes menafsirkan qawwâm dengan pendekatan sosiologis namun tetap tidak lepas memberikan restu untuk perempuan menjadi pimpinan publik. 

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan termasuk kategori riset kepustakaan (library research). Teks-teks Tafsir dari Tafsir Al-Sya’rawiy terkait tema bahasan dikonfirmasi tafsir-tafsir yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Al-Qur’an memberikan arahan untuk tidak diskriminatif dalam melaksanakan syariat; 2) Al-Qur’an memberikan sinyal bahwa pelaksanaan syariat harus bersesuaian dengan maqâshidasy-syari’ah 3) Al-Qur’an secara umum menjelaskan bahwa konsep keadilan Allah berlaku untuk laki-laki dan perempuan; 4) Semangat menegakkan keadilan gender tidak bertentangan dengan semangat Al-Qur’an

References

Al-Abrasyi, M. A. (1970). Dasar Pendidikan Islam, diterjemahkan oleh Bustami A. Gani dan Djohar. Bahry, dari judul At-Tarbiyyah al-Islȃmiyyah. Bandung: Bulan Bintang.

Al-Barik, H. B. M. (n.d.). Ensiklopedi Wanita Muslimah. Jakarta: Darul Falah.

Anshori. (2006). Penafsiran Ayat-Ayat Gender dalam Tafsir al-Misbah. Disertasi di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Anwar, S. (1994). Masalah Wanita Menjadi Pemimpin dalam Perspektif Fiqh Siasah. Jurnal Al- Jami’ah, 56, 36–37.

Auda, J. (2008). Membumikan Hukum Islam Melalui Maqasid Syariah. Bandung:,Mizan Media Utama.

Bressler, C. E. (1997). Literary Criticism: An Introduction to Theory and Practice. New Jersey: Pearson Education, Inc.

Latif, M. N. (2005). Citra Perempuan Dalam Karya Nawal El-Sa’dawi. Jurnal Unhas.Ac.Id, 1(2), 43–51.

Muhtaj, M. El. (2008). Dimensi – Dimensi HAM Mengurai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Jakarta: Rajawali Pers.

Nazir, M. (2003). Metode Peneltian. Ghalia Indonesia.

Sarnoto, A. Z., & Alhan, K. (2013). Kesehatan mental dalam Perspektif Agama Islam. Statement | Jurnal Media Informasi Sosial Dan Pendidikan, 3(1), 32–39.

Sarnoto, A. Z., & Rahmawati, S. T. (2020). Kecerdasan Emosional Dalam Perspektif Al-Qur’an. Statement, 10(1), 17–30. https://jurnal.pmpp.or.id/index.php/statement/article/view/17

Sarnoto, A. Z., & Wibowo, S. (2021). Membangun Kecerdasan Emosional Melalui Zikir Dalam Perspektif Al-Quran. Ulumuddin: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, 11(1), 55–68. https://doi.org/https://doi.org/10.47200/ulumuddin.v11i1.740

Shihab, M. Q. (2005). Tafsir Al Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al Quran (IV). Jakarta: Lentera Hati.

Sya’rawiy, M. M. (1997). Tafsîr asy-Sya’rawiy Al-Khawâthir. Kairo: Mathâbi’ Akhbâr al-Yaum.

Zuhailiy, W. (1997). Al- Fiqh Al- Islâmiy Wa Adillatuh. Beirut: Dar al-Kutb.

Published

2021-10-14

How to Cite

Abdul Hadi. (2021). RELASI GENDER DALAM TAFSIR MUTAWALLÎ AL-SYA’RÂWÎ. Madani Institute : Jurnal Politik, Hukum, Ekonomi, Pendidikan Dan Sosial-Budaya, 10(2), 83-92. https://doi.org/10.53976/jmi.v10i2.247